Mendongeng  (hari 5)


30 Mei 2018


Hari ini, semua sedang libur.

Tadi pagi kak Taz sulit sekali dibangunkan untuk shalat shubuh. Awalnya menggeleng lalu kembali bergelung sambil memeluk guling, kemudian berganti dengan berbalik ke arah lain memunggungi bunda yang mencoba tetap membangunkannya. Akhirnya ganti ayah yang mencoba membangunkan. Sukses bangun, tetapi dengan marah-marah.

Setelah shalat shubuh, kak Taz langsung menyalakan televisi setelah sebelumnya mencomot sepotong tempe goreng tepung. Masih sambil bersungut-sungut, tempe itu digigit dan dikunyahnya perlahan dengan mata menatap layar televisi. Bunda hanya tersenyum melihatnya, dan berencana nanti sore kembali menceritakan kisah Intan dan Sari.

Ketika mengetahui bunda harus ke kantor untuk lembur, kak Taz semakin cemberut. Melepas kepergian bunda dari teras rumah tanpa senyum. Bahkan enggan melambaikan tangan, lalu cepat-cepat berbalik masuk rumah.

Seperti biasa, selang beberapa menit kemudian, hp bunda berbunyi, ada notif pesan WA. Ternyata kak Taz mengirimkan pesan. Isinya merasa tidak seru tanpa bunda di rumah.

Sore harinya, sepulang dari kantor, bunda langsung disambut kak Taz di teras. Sesuai janji tadi siang, bahwa malam ini bunda akan bercerita tentang Intan dan Sari, dua orang teman sekolah bunda sewaktu masih SD dulu. Selepas isya, kami bertiga, yaitu kak Taz, dik Bit, dan bunda pun rebahan di kamar. Kali ini, bunda akan bercerita tentang Intan yang pemarah.

Suatu hari, Intan dan teman-temannya bermain bola kasti. Permainannya sederhana saja, yaitu menggunakan bola buatan sendiri dari batu kecil yang dibungkus kertas beberapa kali hingga berukuran cukup besar, lalu diikat karet gelang. Untuk tongkat pemukul, hanya menggunakan telapak tangan kosong saja. Seru sekali. Kemudian tiba giliran Intan bermain. Ia berusaha memukul bola dengan kuat, ternyata tidak terlalu jauh melentingnya sehingga bola dapat ditangkap dengan mudah oleh kelompok lawan yang sedang berjaga. Intan segera berlari menuju titik pertama, tetapi lawan lebih cekatan dan segera melempar bola ke arah Intan. Ternyata bola dapat mengenai lengan Intan meskipun hanya sepintas saja.

Tetapi Intan tidak mau menerima dan mengakui hal itu. Ia bersikeras bahwa bola hanya lewat dan tidak mengenai lengannya sama sekali. Ketika semua menjelaskan, termasuk rekan satu timnya, Intan justru emosi dan marah. Dia tidak mau mendengarkan dan menerima penjelasan dari teman-temannya. Intan tetap marah dan menuding teman-temannya sengaja berbohong agar dia tidak bisa ikut bermain. Akhirnya terjadi pertengkaran antara Intan dengan teman-temannya.

Intan semakin emosi. Ia merasa paling benar dan teman-temannya itu sengaja ingin menghalanginya untuk bermain. Segera diambilnya bola kasti darurat tersebut, disobeknya sedikit kertas pembungkusnya, lalu dengan sekuat tenaga di lemparkannya batu tersebut. Lalu, byaarrr. Batu tersebut mengenai kaca jendela. sehingga pecah. Tak lama kemudian pemilik rumah pun keluar. Intan ditegur dan dimarahi. Konsekuensinya, orang tua Intan harus mengganti kaca jendela yang pecah..

Setelah cerita habis, tiba-tiba kak Taz menyela bahwa dia akan berusaha tidak mudah marah karena marah menyebabkan merugi.

alhamdulillah, misi bunda semakin mendekati gol.



#tantangan10hari
#level10
#kuliahbunsayiip
#GrabYourImagination